Jumat, 05 April 2013


Kisah Pemuda Jutawan Ikan Bawal

suksesikanbawal
Sejak sekolah dasar, ia sudah berjualan gorengan. Pernah menjual sayuran, menjadi kondektur, mengajarkan les privat, dan ketika mahasiswa, Ance Trio Marta berdagang roti keliling. Kini ia menjadi jutawan karena ikan bawal air tawar.
Tak banyak anak muda, apalagi mahasiswa, yang meyakini masa depan perikanan. Sarjana perikanan pun banyak yang menyerah dan memilih usaha lain.
Tetapi, Ance Trio Marta yang waktu itu mahasiswa—sekitar tiga tahun lalu—yakin bahwa usaha perikanan itu “seksi” dan potensial. Keyakinan itu membawanya sukses dan terpilih sebagai juara I Wirausaha Muda Mandiri 2010.
Sudah banyak kabar tersiar tentang pengusaha yang terpuruk di bisnis kolam ikan. Namun, Ance tak gentar. Hasilnya, ia juga berkali-kali gagal, tetapi tetap bersemangat.
Ketertarikan Ance di bisnis ikan dimulai dari “kecelakaan”. “Waktu itu, 18 September 2007, saya mengantar teman membeli tanah,” ujar Ance menceritakan perjalanan pertamanya ke Desa Cibuntu Kulon, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat.
“Waktu itu, saya lihat ada bak sampah di bekas kolam yang tidak dipelihara. Kolam itu kemudian saya sewa Rp 300.000 per tahun. Luasnya sekitar 500 meter persegi,” tuturnya.
“Saya coba menebar ikan lele, tetapi empat kali rugi. Saya pindah ke kolam lain dan berhasil. Ternyata, kolam pertama terlalu dingin, enggak cocok untuk lele,” kenangnya. Bekas kolam itu kini menjadi kolam pembibitan ikan bawal.
Ketika itu, Ance berhasil di bisnis lele, tetapi kemudian rugi Rp 120 juta. “Padahal, itu uang investasi dari teman-teman. Saya bingung, mau lanjut kuliah atau kerja untuk melunasi utang,” ujarnya.
Ia memilih bertahan dengan beralih pada pembenihan ikan. Sempat putus asa karena tak punya modal, tahun 2008 dia membuat profil usaha di situs web layanan direktori usaha.
“Saya sebutkan bahwa saya menjual segala jenis bibit ikan. Dari internet itu, ada yang mengontak saya, order bibit ikan,” kata Ance yang mencari bibit ikan ke berbagai daerah.
Dia telusuri asal-usul bibit ikan. “Dari situlah saya tahu kebutuhan konsumsi ikan dan pasokan bibit. Saya menjadi tahu seluk-beluk pembibitan, pembesaran, dan pemasarannya,” katanya.
“Saya sempat menjadi calo bibit ikan selama tiga bulan. Dari usaha itu saya mendapat keuntungan. Uangnya saya pakai membeli indukan bawal,” katanya.
Tragisnya, indukan yang berharga itu dicuri. Dia sempat terguncang karena duit yang digunakan untuk membeli indukan itu merupakan tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
“Uang saya ludes, tersisa Rp 300.000. Dari jumlah itu, yang Rp 200.000 saya berikan kepada pegawai, Pak Mantri namanya. Saya bilang kepada dia, itu uang hasil keuntungan bisnis kolam,” katanya.
“Kita untung Pak, tetapi masalahnya saya tak punya modal karena indukan dicuri. Apa Bapak punya sertifikat tanah yang bisa digunakan untuk modal?” kata Ance, menirukan ucapannya ketika itu kepada Pak Mantri.
Pak Mantri pun merelakan sertifikat tanahnya dijadikan agunan bank. Tahun 2008 ia mendapat kredit Rp 10 juta untuk modal dasar membeli indukan ikan bawal.
“Saya membeli indukan 3 kuintal, sekitar 100 ekor. Saya berkonsentrasi pada penyediaan larva ikan bawal,” katanya. Hari demi hari ia lewati dengan target pertama mengembalikan utang.
Masa lalu
Ance bercerita, ayahnya seorang kontraktor di Riau. Tetapi, karena suatu hal, sang ayah bangkrut dan asetnya dijual guna menutupi kebangkrutan. “Kami pindah dari kota ke kampung. Saat itu saya kelas III SD.”
Di kampung, orangtuanya bertani untuk mempertahankan hidup. “Orangtua saya petani biasa, menanam cabai, tomat, dan apa saja yang bisa ditanam di kebun,” katanya.
Maka, saat di kelas IV SD, Ance memulai usaha. “Saya menjual apa pun, seperti gorengan di sekolah. Saya juga dagang sayuran, orangtua tak tahu-menahu soal ini. Duitnya saya gunakan membeli buku,” katanya.
Ance juga menjadi kondektur mobil angkutan. “Ketika SMA, saya menjadi guru privat mengajar Bahasa Inggris untuk siswa SD. Nilai uangnya tak seberapa, tetapi buat saya, semangat kerja itu yang penting,” katanya.
Walau sibuk, prestasi akademisnya tak mengecewakan. “Di SMP saya juara umum, sewaktu SMA masuk lima besar,” katanya.
Kondisi ekonomi keluarga pun tak membuat langkah Ance surut untuk menikmati bangku kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Baju dan sepatu ketika SMA saya bawa semua ke Bogor biar bisa berhemat,” katanya.
Sampai di Bogor, ia mulai memutar otak untuk membiayai kuliah. Ketika masih semester I di IPB tahun 2005, ia berdagang roti keliling ke tempat-tempat indekos. “Satu roti harganya Rp 300, saya jual Rp 500,” tutur Ance yang saat itu juga berbisnis multilevel marketing (MLM).
Bangkit
Setahun setelah mendapat kredit bank, bisnis Ance mulai bangkit. “Saya bisa membayar utang kepada teman-teman. Keuntungannya juga lumayan,” katanya.
Secara matematis, tiap induk menghasilkan 200.000 anakan. Anakan umur seminggu dijualnya seharga Rp 10 per ekor. Ance memiliki ratusan ekor induk, jadi bisa dihitung pendapatannya. Kunci dari keberhasilannya adalah membuat sistem bisnisnya lebih dulu.
“Saya cari dulu orang yang mau membeli ikan siap konsumsi. Lalu, saya cari petani yang mau membesarkan bibit ikan sehingga semua siklus bisa dipegang. Saya belajar sambil jalan, learning by doing,” katanya.
Dari sisi keahlian, Ance bukan ahli pemijahan atau pembesaran ikan. Teknik itu ia pelajari dari petani setempat. Keunggulannya adalah menyatukan semua jaringan pada seluruh level bisnis ikan, mulai dari pembibitan, pembesaran, hingga pemasaran.
Ia menggunakan model inti plasma. Para petani sekitar diajaknya bekerja sama membesarkan larva dan bibit bawal. Ketika panen, Ance menangani pemasarannya.
Ia juga melebarkan sayap bisnis dengan pengolahan ikan dan bisnis restoran bermenu ikan. “Saya juga membuat rumah pelatihan di areal wisata yang akan saya beli,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Kini dia mempunyai plasma 12 orang dan petani larva 25 orang di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Kisah Ance terasa manis dan mudah diikuti. Namun, sebelum mengikuti jejaknya, ingat bahwa dia pernah gagal berkali-kali. (amir sodikin)

Senin, 01 April 2013

tugas 3


Tugas 3 rangkuman pertemuan 2

Berfikir Perubahan, Kreatif dan Etika Bisnis

Manusia merasakan perubahan, tetapi manusia tidak mampu melihatnya. Punya mata tetapi tidak melihat, sama seperti orang-orang berharta tetapi tidak berderma. Karena manusia selalu menyangkal realita-realita baru dan terbelenggu oleh realita-realita lama, rutinitas dan enggan berpikir tentang hal-hal yang baru. Semua itu dibentuk oleh mindset kita.
Mindset Menggerakkan Perilaku
Pola pikir atau mindset adalah keseluruhan/ kesatuan dari keyakinan yang kita miliki, nilai-nilai yang kita anut, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan,dan pendapat yg tdk dikeluarkan dalam memandang diri kita sendiri, orang lain atau kehidupan ini. Atau mindset adalah semacam filter yg kita bangun untuk menafsirkan apa saja yg kita liat dan kita alami.
Mengubah Pola Pikir
Pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran (learning), maka pola pikir bisa juga diubah (unlearning), dan dibentuk ulang (relearning). Ada pola pikir yg bisa kita ubah dgn bantuan para ahli seperti psikologi, ahli mindset transformasi atau terapis NLP (Neuro Linguistik Program).Perubahan pola pikir berarti juga berubah dari satu pola pikir yang lain, mis: pola pikir negative menjadi positif, dari pecundang menjadi pemenang, dari pola pikir statis menjadi kreatif dari konsumtif menjadi produktif dan dari pola pikir pekerja menjadi entrepreneur.
Pola Pikir Entrepreneur
Pola pikir seorang entrepreneur menonjol dlm byk hal, Seorang entrepreneur berkarakter produktif, bukan konsumtif. Juga selalu berusaha”mencari cara baru” untuk meningkatkan utilitas sumberdaya secara efisien, ia selalu mencari alternative bila sumber daya yg ada terbatas. Seorang entrepreneur cenderung menjadi job creator dari pd sekedar job seeker.
Hambatan Persepsi saat memulai Usaha
Pada saat akan memulai usaha banyak entrepreneur pemula yg mempunyai hambatan mental berupa persepsi yang negative tentang kemampuan dirinya.Untuk memulai usaha, kita hanya butuh 3M, yaitu:

1. Motivasi yg kuat,
2. Mindset yg tepat (produktif, kreatif, positif)
3. Make it (lakukan saja).
Hambatan Kreatifitas

Kesalahan terbesar yg dilakukan banyak para sarjana dalam berpikir adalah ketidaktahuan dan keengganan dalam menggali dan memahami keunikan diri sendiri, dan ketidakmampuan dlm mengatasi hambatan berkreasi
Cara Berwirausaha?
1. Wirausaha dapat dijalankan seorang atau sekelompok orang.
2. Jenis usaha yg dijalankan dapat bersifat komersial dan sosial atau kedua-duanya
3. Memiliki modal sekaligus menjadi pengelola;
4. Menyetor modal dan pengelolaan ditangani oleh pihak mitra;
5. Dalam bentuk saham sebagai bukti kepemilikan.

Etika Wirausaha

Suatu kegiatan usaha haruslah dilakukan dng etika atau norma-norma yg berlaku di masyarakat bisnis;
Etika atau norma-norma itu digunakan agar para pengusaha tidak melanggar aturan yg telah ditetapkan dan usahanya dijalankan dgn memperoleh simpati dari berbagai pihak.

Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa perancis Etiquette yg berarti kartu undangan; pada saat itu Raja-raja perancis sering mengundang para tamu dgn menggunakan kartu undangan. Dlm kartu undangan tercantum persyaratan atau ketentuan untuk menghadiri acara seperti waktu,pakaian dsb.

Etika adalah tata cara berhubungan dgn manusia lainnya, karena masing-masing masyarakat beragam adat dan budaya.Etika sering disebut sebagai tindakan mengatur tingkah laku atau perilaku manusia dng masyarakat.

Etika Wirausaha secara umum

1.Sikap dan perilaku seorang pengusaha harus mengikuti norma yg berlaku dlm suatu negara atau   masyarakat
2.Berpenampilan sopan dlm suatu situasi atau acara tertentu.
3.Cara berpakian yg layak dan pantas
4.Cara berbicara yg santun dan tdk menyinggung orang lain
5.Perilaku yg menyenangkan orang lain.

Etika dan norma setiap pengusaha

1. Kejujuran
2. Bertanggungjawab
3. Menepati Janji
4. Disiplin
5. Taat Hukum
6. Suka Membantu
7. Komitmen dan Menghormati
8. Mengejar Prestasi

Tujuan dan manfaat Etika Wirausaha

1. Tujuan etika hrs sejalan dgn tujuan perusahaan;
2. Manfaat etika bagi perusahaan:
3. Persahabatan dan pergaulan;
4. Menyenangkan orang lain;
5. Membujuk pelanggan;
6. Mempertahankan pelanggan;
7. Membina dan menjaga hubungan.

Bagaimana sikap dan perilaku wirausaha

1. Jujur dlm bertindak & bersikap,
2. Rajin,tepat waktu dan tdk malas,
3. Murah senyum,ramah tama,pandai bergaul,
4. Fleksibel dan suka menolong pelanggan,
5. Tanggung jawab dan rasa memiliki perusahaan

Senin, 25 Maret 2013

tugas 1

Tugas 1


Resensi Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong 
Identitas Buku
Judul            : Chairul Tanjung Si Anak Singkong 
Penulis         : Jahja Gunawan Diredja
Penerbit       : Kompas
Tebal            : 400 halaman
Tahun terbit : 2012
Sinopsis :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEy4gY7vrHQ1ClYpJuXb5710gIfRwkSJVqp_TU4VFVrmNZsUpQkEHYaEIFBvTJnOeRJRVodw82RatpEKjboPwVwQm9Or7I2sAW74w2p-WnqDdQmdYxE4XGrvVd9WiLkxNw9qyeQEQS9dE/s400/CT.jpg
Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong
Biografi Chairul Tanjung yang diawali dengan kisah bagaimana di tengah keterbatasan kondisi ekonomi keluarga, Chairul Tanjung mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kedua orangtua sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya, termasuk Chairul Tanjung. Orangtuanya mempunyai prinsip, “Agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya.” Apa pun akan mereka upayakan agar anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan tinggi sebagai bekal utama kehidupan masa depan.
Sang ibunda, Halimah, mengatakan bahwa uang kuliah Chairul Tanjung pertama yang diberikan kepadanya, diperoleh ibunda dari menggadaikan kain halus miliknya.
Bab-bab berikutnya masih menceritakan kehidupan masa muda Chairul Tanjung, saat-saat menjadi mahasiswa sampai kisah awalnya menjadi wirausaha. Tahun 1987, Chairul Tanjung menjadi kontraktor pembangunan pabrik sumpit di Citeureup, Bogor, seluas 800 meter persegi. Tapi yang jadi malah pabrik sandal.
Buku ini juga mengisahkan kehidupan rumah tangga dan keluarga Chairul Tanjung, ketika Chairul Tanjung bertemu dengan perempuan Jawa, Anita Ratnasari, yang tegas dan tegar.
Dalam buku ini, Chairul Tanjung mengungkapkan bahwa, “bagi saya, ibu adalah segalanya.” Chairul Tanjung percaya bahwa surga ada di telapak kaki ibu. “Bila kita benar-benar berbakti kepada ibu sepenuh hati dan ikhlas, maka surga akan kita gapai di dunia. Itu yang saya alami sendiri,” demikian Chairul Tanjung berpendapat.
Chairul Tanjung juga menyampaikan pandangan-pandangannya tentang persoalan ekonomi dan menceritakan aktivitasnya sebagai pengusaha.
Chairul Tanjung mengembangkan Para Group, kemudian mengganti nama perusahaannya menjadi CT Corp. Secara umum CT Corp terdiri atas tiga perusahaan subholding yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources.
Mega Corp adalah perusahaan induk untuk jasa keuangan yang melayani masyarakat di sektor perbankan, asuransi, pembiayaan, dan pasar modal.
Trans Corp adalah perusahaan induk yang bergerak di bisnis media, gaya hidup, dan hiburan. Dalam perusahaan ini, terdapat dua stasiun TV, yaitu Trans TV dan Trans 7, portal berita Detik, dan perusahaan ritel Careefour. Selain itu juga ada perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman, hotel, biro perjalanan, dan sejumlah department store yang menyediakan kebutuhan fashion merek terkenal dan high-end.
Sedangkan CT Global Resources adalah perusahaan induk yang fokus pada bisnis perkebunan. 
Buku ini menarik dibaca dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana seorang Chairul Tanjung berhasil menjadi pengusaha sukses dengan hasil kerja kerasnya dan hasil keringatnya sendiri, dan bukan warisan keluarga konglomerat.
Kelemahan :
Buku ini memiliki kertas yang kurang bagus warnanya kuning dan begitu tipis sehingga tidak begitu nikmat kalau dilihat, dan begitu pula dengan cover bukunya warna kurang begitu bagus, seharusnya menggunakan warna hijau atau biru agar pembaca dapat tertarik.
Keunggulan :
Buku ini memiliki cerita yang sangat menarik untuk dibaca karena banyak hal yang bisa dipelajari dari buku tersebut contohnya baktinya seorang anak kepada ibunya, tetap semangat untuk mencapai keberhasilan, dan banyak lagi yang bisa dipelajari. Bahasa penuturan yang digunakan cukup menarik untuk di baca karena sederhana dan mudah dicerna untuk berbagai kalangan.